Wednesday, February 27, 2013

Kiri Kanan Bisa



     Seringkali kita mendengar perkataan ketika melihat pasangan homo di depan mata kita dengan kalimat “mereka itu lesbi yah?” atau “wahh mereka homo (gay) yah, liat tuhh mereka gandengan tangan.”. Tetapi apa sih yang kalian rasakan ketika kalian tahu atau seminimal-minimalnya melihat laki-laki dewasa saling bergandengan tangan dengan mesranya? Jijik? Geli? Atau hal lainnya ketika kalian tahu ada pasangan homo didepan mata kalian?
     Terlepas dari itu semua, kita pasti juga bertanya-tanya “kenapa sihh mereka mau melakukan itu?”, walau begitupun kita tetap saja tidak mau bertanya pada mereka alasan mereka memilih orientasi seksual mereka sebagai pasangan Homo baik itu lesbian maupun gay. Tapi sadarkah kalian? Jika dibandingkan pada waktu tahun 80-90an dengan waktu sekarang (abad 20), ketika melihat ada pasangan homo pasti mereka akan dikucilkan dan dianggap tidak normal? Walau saat ini masih tetap dianggap aneh, tetapi diskriminasi yang dilakukan pada waktu itu dengan waktu sekarang tidaklah seekstrem dulu dan mungkin kita bisa saja mengatakan “yahh itukan pilihan mereka mau bagaimana, gak ada urusannya sama kita kan?”.
     Jadi jika dibandingkan pada tahun 80-90an, kita yang hidup di abad 20 ini lebih bisa menerima keberadaan pasangan homo baik itu lesbian maupun gay. Bahkan jumlah keberadaan pasangan homo ini juga semakin meningkat. Tetapi pernahkah kalian terpikirkan alasan mereka sampai memilih untuk menjadi seorang homo entah itu lesbian bagi para wanita ataupun sebagai gay bagi para pria. Saya pernah menanyakan beberapa kenalan saya (walau tidak begitu dekat dengan mereka) yang merupakan seorang lesbian. Alasan mereka menjadi lesbian lebih dominan ke arah karena mereka pernah mengalami hubungan yang membuat mereka trauma pada kaum laki-laki sehingga mereka menjadi tidak mau lagi berhubungan dengan laki-laki. Itu dari apa yang saya dapat dari jawaban yang mereka berikan, terlepas dari benar atau tidaknya jawaban dari mereka.
     Setelah saya pikir-pikir mungkin ada benarnya juga jawaban mereka jika mengingat dari berita atau artikel yang berisikan kaum laki-laki sering memperkosa, menganiaya, dan sejenisnya yang korbannya adalah kaum perempuan. Hal itu bisa saja menjadi pemicu takutnya mereka pada kaum laki-laki bukan karena mereka phobia tetapi karena mereka sudah tersugesti bisa-bisa mereka yang akan menjadi korban. Itu yang bisa saya simpulkan dari apa yang saya perhatikan dari wanita-wanita yang lesbian. Lalu bagaimana dengan alasan laki-laki yang menjadi gay?
     Soal itu saya belum menemukan laki-laki menjadi gay, sehingga saya tidak mendapatkan alasan mereka menjadi gay. Jadi untuk pasangan gay saya belum dapat memastikan alasan mereka untuk memilih menjadi pasangan gay.
     Ada lagi sekarang orientasi seksual yang dimana dengan laki-laki bisa dengan perempuanpun bisa atau yang sering kita dengar dengan istilah “biseksual”. Nah soal kasus yang satu ini saya juga kurang mengerti alasan mereka mengapa mereka mau melakukan hal tersebut. Saya punya satu teman (walau sudah hilang kontak) yang di mana dia ini seorang laki-laki yang tertarik pada lawan jenisnya tetapi dia juga tertarik pada sesama jenisnya. Sayapun bingung waktu itu dan saya tanyakan padanya alasannya ia mau melakukan hal itu, dan dia menjawab “hanya variasi saja, lagipula gw juga tertarik melihat penis laki-laki lain selain punya gw!”. Setelah mendengar jawabannya saya jadi bingung dan semakin tidak mengerti alasannya.
     Terlepas dari semua alasan yang mereka miliki, mungkin saja mereka yang menjadi lesbian, gay ataupun biseksual, itu karena mereka pernah mengalami pengalaman yang membuat mereka menjadi termotivasi untuk memilih orientasi seks mereka menjadi lesbian, gay, atau biseksual. Mungkin karena saat ini pemikiran kita yang semakin terbuka dengan keberadaan mereka, hal ini juga mungkin yang menjadi pemicu semakin bertambahnya jumlah pasangan yang orientasi seksualnya menyimpang dari yang seharusnya. Bukan berarti mereka tidak tahu itu salah secara norma budaya dan agama, tetapi ada suatu dorongan yang membuat mereka tidak mampu melepas diri dari perasaan mereka untuk melakukan hal tersebut.

Friday, February 15, 2013

Jealous is Love?



      Kita pasti pernah mendengar istilah “aku cemburu karena aku sayang kamu!” atau “kalo dia cemburu berarti dia sayang lu tuh tandanya!”, jadi istilah cemburu itu diibaratkan sebagai hal yang wajar dan menjadi tanda bahwa do’I cinta sama pasagannya. Tapi coba dipikir-pikir lagi, apakah cemburu itu memang hal yang wajar dan sebagai tanda dia cinta sama pasangan atau malah itu sebagai salah satu tanda sifat posesif pasangan agar dia merasa tidak akan kehilangan pasangannya? Sebagaimana kita tahu sifat posesif dari seorang pria atau sebaliknya sebagai pasangan, sangatlah tidak diinginkan dalam satu hubungan pacaran dan maupun dalam hubungan pernikahan.
       Kenapa begitu? Kembali lagi, kita pasti pernah mendengar pernyataan baik dari teman atau saudara kita dengan kalimat “Cewe gw posesif banget! Apa-apa ditanyain, gw ditelpon temen aja diomelin. Hape gw juga dicek terus tiap kali ketemu! Gw udah keq tawanannya banget dah!”. Dari pernyataan itu pun kita juga sudah bisa membayangkan kalau pasangan yang posesif itu sangat tidak diinginkan dalam hubungan. Lantas jika cemburu bukanlah suatu bukti rasa cinta? Lalu, apa cinta itu sendiri?
      Cinta itu ada yang disebut Romantic Love, merupakan rasa cinta yang datang dengan rasa ekstasi dan cemas, ketertarikkan dengan fisik partner, dan bahkan sexual desire, di mana romantic love ini, kita sering meng-idealkan atau mengharapkan pasangan seperti yang diinginkan dan biasanya ketika hubungan tersebut masih baru, kesalahan yang dibuat oleh pasangan sering tidak dihiraukan atau pura-pura tidak melihat.
       Ada lagi Passionate Love,  yaitu cinta yang tumbuh ketika kita sedang bersama dengan lawan pasangan baru dengan perasaan yang menyenangkan atau membahagiakan. Biasanya baik romantic love maupun passionate love, hubungan yang berlangsung seringkali hanyalah sebentar, tidak dapat bertahan dengan lama. Tetapi jika pasangan dapat mencapai Companionate Love, biasanya hubungan yang terjalin akan berlangsung cukup lama, karena companionate love melibatkan perasaan afeksi , intimasi, dan kelekatan pada pasangan itu sendiri yang juga didukung dengan komitmen dalam hubungan itu sendiri.
       Jika melihat bentuk cinta menurut John Alan Lee, ia menyebutkan ada 6 tipe, pertama Eros atau romantic lover, sering disebut juga sebagai “cinta pada pandangan pertama” di mana pasangan yang penuh dengan gairah. Kedua ludus atau game-palying lover, pasangan yang suka terlihat putus-sambung-putus-sambung. Ketiga storge atau calm lover, pasangan yang hubungannya tidak terlihat seperti sedang berpacaran. Keempat agape atau selfless lover,  pasangan yang terlihat sangat mempercayai pasangannya, namun dapat mengarah ke arah negatif karena bisa saja jika memilih agape love dalam hubungan bisa saja pasangannya akan merasa kurang diberi perhatian. Kelima pragma atau practical love, hubungan yang terlihat pasangan seperti memberikan persetujuan masing-masing dalam hubungan mereka. Yang terakhir adalah mania atau crazy lover, ini merupakan cinta yang bisa sangat berbahaya karena pasangan dapat memiliki tingkat kecemburuan yang sangat tinggi.
      Jadi sebagaimana kita melihat, kecemburuan itu bukanlah suatu bukti bahwa pasangan cinta terhadap diri kita. Bisa jadi itu merupakan suatu gangguan kecemasan dalam dirinya akan suatu pengalamannya dulu, entah pengalaman sejak ia kecil atau dengan hubungannya dengan pasangannya yang sebelumnya di mana pengalaman yang dialami membuat dirinya trauma. Karena trauma yang didapatnya akhirnya membuat dirinya sulit untuk dapat memberikan kepercayaan pada pasangannya. Namun terlepas dari itu semua, jika dalam suatu hubungan masing-masing sudah memiliki komitmen dan keterbukaan bisa jadi rasa cemburu itupun akan menjadi pudar dan rasa percaya satu sama lain bisa tumbuh. Jadi bagaimanakah hubungan kalian dengan pasangan kalian masing-masing?


Never hurt your Lover if you really love Him/Her.