Sunday, March 17, 2013

yang perlu diperhatikan dalam wawancara



     Setelah banyak membahas teknik wawancara dalam dunia psikologi, sebetulnya ada gak sih hal yang perlu diperhatikan dalam teknik wawncara itu sendiri? Jawabannya sudah pasti ya. Lalu apa saja yang harus diperhatikan dalam teknik wawancara, khususnya ketika digunakan untuk kepentingan praktisi psikolog? Ada enam hal yang perlu diperhatikan, yaitu : kemampuan membina rapport, empati, attending behavior, teknik bertanya, keterampilan observasi, dan active listening.
     Pertama, kemampuan membina rapport, pasti ada yang masih bertanya-tanya apa rapport itu sendiri? Rapport itu sendiri merupakan kemampuan seseorang membina suatu hubungan yang baik, positif, dan hangat terhadap orang lain. Hal ini perlu dilakukan untuk membina hubungan dengan klien untuk memberi kesan bahwa praktisi adalah orang yang hangat dan nyaman yang membuat klien mau terbuka pada praktisi. Hal ini dilakukan untuk menggali informasi klien mengenai masalah yang dihadapinya.
     Kedua, empati, hal ini penting untuk dimiliki bagi seorang praktisi psikologi khususnya psikolog klinis. Mengapa begitu? Klien yang menghadapi kesulitan apapun, bagi klien hal itu adalah sesuatu yang sangat berat walaupun bisa jadi bagi kita hal itu sangatlah sederhana dan mungkin dapat membuat kita geli mendengarnya. Dalam empati ini sangatlah penting bagaimana kita membayangkan jika kita yang berada dalam masalah klien yang sedang dihadapi. Dengan melakukan empati ini, klien akan merasa bahwa ada yang memperhatikannya ataupun mengerti keadaannya. Hal ini dapat memotivasi diri klien untuk turut berkooperasi dalam proses treatment.
     Ketiga, attending behavior, yaitu berusaha membuat diri kita mendengar dan sepenuhnya memberi waktu bagi klien untuk berbicara mengenai masalah dirinya. Hal ini juga penting dilakukan, karena dapat memberikan kesan bahwa klien datang pada praktisi psikolog tidak percuma sebab ada yang mendengarkan dirinya. Hal ini juga merupakan bagian dari empati yang dapat diberikan pada klien. Dengan memperhatikan klien, kita dapat sepenuhnya fokus pada permasalahan klien dibadingkan ketika kita sibuk dengan diri kita sendiri.
     Keempat adalah teknik bertanya. Ada dua jenis teknik bertanya open question dan closed question. Open question sifatnya lebih tidak mengarahkan di mana klien dapat bebas mengekspresikan perasaannya dan dirinya. Biasanya pertanyaan yang dilontarkan adalah “Apa yang bisa saya bantu?” dan dilakukan biasanya di awal pertemuan di sesi pertama. Namun di tengah-tengah sesi juga dapat dilontarkan pertanyaan open question seperti “Bisakah anda ceritakan lebih lanjut?”. Kedua, closed question, lebih bersifat mengarahkan dan jawaban yang diberikan biasanya akan pendek bahkan dapat sebatas “ya” atau “tidak”. Ada resiko dengan closed question akan membuat klien menjadi terpengaruh dengan pemikiran praktisi dan bisa jadi terdistorsi. Oleh sebab itu, closed question dalam tiap sesi tidak terlalu sering digunakan.
     Kelima, keterampilan observasi, seperti pada artikel sebelumnya, observasi juga akan sering digunakan bagi praktisi terutama saat melakukan wawancara. Ada 3 area yang difokuskan dalam observasi. Pertama adalah perilaku nonverbal, biasanya hal yang diperhatikan adalah sekitar ekspresi wajahnya, bahasa tubuh yang dilakukan oleh klien, dan tentu praktisi harus menghindari stereotype. Kedua adalah perilaku verbal, hal yang diperhatikan sekitar pada sellective attention yang dilakukan oleh klien serta key word yang muncul dalam pembicaraan klien. Dan yang terakhir adalah konflik, diskrepansi dan inkongruensi. Dalam hal ini, praktisi harus mewaspadai diskrepansi antara perilaku verbal dan nonverbal yang dilakukan klien dan juga inkongruensi dalam pembicaraan klien yang bisa jadi klien masih tidak nyaman untuk bercerita sehingga adan indikasi klien masih belum dapat jujur pada praktisi.
     Terakhir adalah active listening, di mana ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan kembali. Pertama, encouraging, sebuah tindakan yag dilakukan oleh praktisi untuk memotivasi klien untuk terus bercerita mengenai masalahnya. Kedua, reflection of content vs reflection of feeling, di mana reflection of content merupakan tindakan yang berfokus pada konten dan mengklarifikasi apa yang sudah dikomunikasikan oleh klien. Sedangkan reflection of feeling merupakan tindakan mengidentifikasi key emotions dari klien dan menanyakan klien untuk memastikan pengalaman afeksinya. Dan yang ketiga adalah summarizing, sama dengan reflection of content hanya saja dilakukan saat akhir ketika klien sudah selesai bercerita dan merangkum semuanya tidak sepanjang apa yang dikatakan klien hanya untuk mengklarifikasi topik yang sudah disampaikan.
     Keenam hal inilah yang penting dilakukan dalam melakukan teknik wawancara terutama dalam bidang psikologi klinis. Namun dari semuanya tentu ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan, yaitu mengenai kerahasiaan yang dijaga mengenai permasalahan klien agar tidak diketahui oleh orang lain. Hal ini juga dapat meningkatkan kenyamanan bagi klien untuk mau terbuka dan menceritakan permasalahan diri klien. Be a good interviewer guys! ^_^

Wednesday, March 13, 2013

Why we can like someone?



     Kalian pasti pernah merasakan yang namanya perasaan suka pada seseorang donk? Jika ditanya apa sih yang membuat kalian suka sama si do’i? Sebagian ada yang menjawab “saya suka bau tubuhnya” atau “saya suka dengan penampilannya” atau bahkan ada yang tidak sungkan-sungkan menjawab “saya suka dengan keseksian tubuhnya”. Berbagai macam alasan akan muncul ketika kita bertanya alasan seseorang menyukai lawan jenisnya.
     Tetapi tahukah kalian? Untuk kita dapat menyukai seseorang ternyata melalui jalan yang sangat kompleks. Dalam sebuah penelitian, kita menyukai seseorang itu secara tak langsung, di otak kita sudah mengolah informasi kriteria pasangan yang sudah tertanam di dalam diri kita agar dapat dicocokkan dengan lawan jenis yang menjadi perhatian kita dan tentu saja kita akan mencari pasangan yang terbaik bagi kita. Lalu apa saja yang mungkin menjadi faktor penentunya?
     Ternyata berdasarkan penelitian, kita mencari pasangan yang kemungkinan memiliki gen yang baik, tubuh yang sehat, yang nantinya dapat menghasilkan keturunan yang baik dan semua itu dilakukan secara tak sadar. Lalu, apa saja yang kita perhatikan? Secara tak sadar kita akan memperhatikan wajahnya, gerakan tubuhnya, nada berbicaranya, dan bahkan dari bau tubuhpun juga menjadi salah satu kriteria. Bagi kita, gerakan yang lebih maskulin (pria) atau gerakan yang lebih feminin (wanita), menjadi salah satu cara untuk menjadi daya tarik seksual kepada lawan jenis. Kita secara tak sadar akan menilai bahwa pria atau wanita tersebut memiliki tubuh yang sehat.
     Dalam penelitian juga menunjukkan bahwa, banyak orang yang lebih tertarik dengan seseorang yang wajahnya simetris dibandingkan dengan wajahnya kurang simetris. Hal itu juga dianggap bahwa dengan wajah simetris, orang tersebut mungkin juga memiliki tubuh yang sehat. Namun, bagi wanita yang sedang di puncak masa subur, wajah wanita tersebut banyak dinilai sangat menarik dibandingkan ketika sedang tidak dalam masa subur.
     Nada suarapun juga menjadi salah satu daya tarik seksual tertentu bagi lawan jenis. Bagi wanita, suara pria yang dianggap menarik adalah pria dengan nada suara yang lembut dan stabil karena dianggap lebih tegas dan lebih maskulin. Sedangkan bagi pria, suara wanita yang sedikit lebih tinggi dianggap lebih menarik dan dianggap lebih sehat dibandingkan dengan nada suara yang lebih rendah. Namun bagi wanita yang sedang dalam puncak masa subur, suara yang dihasilkan juga dianggap menarik dan lebih feminin bagi banyak pria.
     Ternyata, bau tubuh yang kita hasilkan juga salah satu daya tarik seksual bagi lawan jenis dan juga bahkan dapat sebagai penolak atau anti untuk tidak terjadi hubungan seksual. Biasanya hal itu sering dihasilkan untuk mencegah terjadinya Incest atau hubungan sedarah. Bau yang dihasilkan oleh setiap orang berbeda-beda karena berhubungan dengan metabolisme tubuh orang tersebut. Bau untuk membuat lawan jenis tertarik juga terjadi dengan sangat kompleks, di mana tidak hanya pheromone saja yang terlibat, namun juga hormon-hormon lainnya juga ikut terlibat.
     Lalu, jika hal itu semua terjadi, apakah ketika sudah menemukan pasangan dan menikah akan memastikan bahwa pasangan tidak akan mencari lagi yang terbaik? Tentu saja tidak, proses tersebut akan terus berlangsung selama kita masih hidup. Jika begitu, lalu apa yang membuat pasangan dapat setia? Semuanya kembali pada individu dan psangannya masing-masing. Kembali pada artikel saya yang pertama, untuk menjadikan suatu hubungan indah dibutuhkan suatu komitmen satu sama lain, tidak hanya sebatas wajah, tubuh, materi, dan sebagainya. Kita sendirilah yang menentukan, apakah saya mau terus bersama dengan pasangan saya atau tidak. Jadi, terlepas dari semua hal yang diatas, kita sendirilah yang menentukan bagaimana kita menentukan relasi kita pada pasangan.

“Don’t judge the book by just the cover only”

Saturday, March 9, 2013

Psikologi Industri/Organisasi dan Psikologi Pendidikan



     Ternyata, teknik wawancara dalam dunia psikologi tidak hanya digunakan dalam konteks psikologi klinis saja, tetapi juga dalam konteks psikologi industri/organisasi (PIO) dan juga dalam konteks psikologi pendidikan. Jika dalam konteks klinis, wawancara digunakan untuk menggali informasi dari klien mengenai masalah yang dihadapinya, lalu dalam konteks PIO dan pendidikan, wawancara itu digunakan untuk apa?
     Pada dasarnya sama, wawancara digunakan untuk menggali informasi, hanya saja tujuan dasarnya sedikit berbeda. Jika dalam konteks klinis untuk mengetahui permasalahan yang dimiliki klien, dalam konteks PIO digunakan untuk mengetahui pengalaman pekerjaan calon karyawan, untuk mengetahui kompetensi yang dimilikinya dan informasi-informasi lainnya. Lalu, dalam konteks pendidikan, wawancara digunakan untuk mengetahui rencana pendidikan dari murid, permasalahannya dalam pendidikan, minatnya atau bakatnya yang ingin dikembangkan, dan informasi lainnya.
     Lalu, pendekatan yang perlu dilakukan oleh para praktisi PIO atau Pendidikan sama dengan pendekatan yang dilakukan oleh para praktisi Psikologi klinis? Dalam hal ini mungkin saja ada perbedaannya. Dalam konteks PIO, pendekatan wawancara yang dilakukan mungkin untuk meredakan ketegangan dan rasa Nervous ketika si calon karyawan akan diwawancara apalagi wawancara dilakukan face to face dan di dalam ruangan tertutup. Sedangkan dalam konteks psikologi pendidikan, pendekatannya mungkin saja lebih mengarah pada rasa keterbukaan dari praktisi agar murid mau ikut terbuka pada praktisi agar permasalahannya dapat dibantu dalam dunia pendidikan si murid.
     Tetapi, walau ada perbedaan, teknik wawancara yang dilakukan juga memiliki resiko yang sama, yaitu faking information / faking good. Dalam konteks PIO, faking biasa dilakukan agar si calon karyawan terlihat baik dan memiliki kompetensi yang bagus dalam bekerja (padahal belum tentu praktisi PIO dapat dibohongi). Lalu, dalam konteks psikologi pendidikan, faking mungkin dilakukan untuk menghindari diri agar orang tua murid tidak dipanggil, karena hingga saat ini jika orang tua murid dipanggil ke sekolah apalagi yang memanggil itu adalah guru BP, orang tua memiliki pemikiran bahwa anaknya ada suatu masalah besar di sekolah. Oleh karena itu bisa saja murid melakukan faking ketika diwawancara oleh praktisi.
     Tentu, bagi praktisi PIO maupun Psikologi Pendidikan, mereka juga menggunakan alat tes, observasi, walaupun mungkin kurang dapat melakukan terapi. Pada dasarnya, menjadi Psikolog Klinis, PIO, Psikologi Pendidikan, dan bidang Psikologi lainnya, banyak hal yang harus dikuasai bagi calon-calon Psikolog untuk menjadi Psikolog yang kompeten, bahkan mungkin kesulitannya tidak kalah berat dengan fakultas lainnya. Dari kedua artikel saya, tentu sudah sedikit terbayang bukan bahwa menjadi seorang Psikolog tidaklah semudah dari apa yang kalian bayangkan saat ini. Seorang Psikolog juga manusia, jadi hormatilah juga bagi mereka yang menggeluti bidang Psikologi bukan berarti mereka adalah dukun yang bisa membaca orang, atau hanya mengurusi orang gila saja, atau sebagai fakultas pelarian karena dianggap tidak ada hitungannya dalam materi perkuliahannya. Jadi bagaimana pandangan kalian saat ini mengenai Psikologi?

Sunday, March 3, 2013

Apa itu Homophobia?



     Dalam artikel saya sebelumnya mengenai Homoseksual, ada saya sebutkan bahwa ketika kita mengetahui atau melihat adanya pasangan homo, kita seringkali memunculkan sikap jijik atau takut. Tahukah kalian? Bisa jadi hal itu adalah homophobia, sebuah rasa takut ketika melihat pasangan dengan orientasi seksual sebagai homo.
     Lalu apa penyebab adanya homophobia itu sendiri? Bisa jadi hal itu disebabkan karena ajaran sejak kecil bahwa homoseksual itu buruk, menjijikkan, dan lain sebagainya yang disebutkan dengan kalimat-kalimat mendiskriminasi. Akibatnya? Terjadi sikap diskriminasi tanpa alasan jelas, menjauhi mereka yang merupakan pasangan homoseksual, menghina dan bahkan takut untuk dekat dengan mereka tanpa mengetahui dengan jelas mengapa mereka takut terhadap mereka.
     Tetapi sadarkah kalian, tindakan yang kita lakukan dapat menyakiti perasaan mereka. Walau mereka memilih orientasi seksual mereka sebagai homo, tetapi bukan berarti mereka bukan manusia. Mereka memilih menjadi seperti itu bukan berarti mereka tidak tahu konsekuensi dan akibatnya. Mereka pasti memiliki alasannya sendiri seperti yang pernah saya ucapkan dalam artikel saya sebelumnya.
     Terlepas dari alasan yang mereka miliki, terkadang walau kita sendiri sudah mengetahui alasan mereka, tetapi kita juga tidak jarang untuk tidak mau mengerti alasan yang mereka miliki. Homoseksual juga mungkin dapat terjadi karena kesalahan kita sendiri. Karena kita merasa pelajaran seksual adalah hal yang tabu akhirnya anak-anak menjadi kurang mengetahui atau paham akibat dan konsekuensinya sehingga mereka mencoba dan mencari tahu sendiri tanpa mengetahui akibat dan konsekuensinya.
     Sama halnya jika kita mengajarkan pada anak bahwa homoseksual merupakan sesuatu yang buruk atau kita salah memberikan pengertian yang baik pada anak mengenai homoseksual, ketika dewasa nanti bisa jadi anak tersebut akan memiliki homophobia. Oleh karena itu, sebagai seseorang yang lebih dewasa, janganlah memberikan penilaian negatif terhadap homoseksual, melainkan mencoba menjelaskan dengan baik apa itu homoseksual, agar anak menjadi mengerti dan tindakan apa yang patut diambil nantinya ketika bertemu dengan seseorang yang homoseksual.



Janganlah menilai seseorang dari apa yang kau lihat, tetapi mengertilah dari apa yang mereka lakukan pada dirimu, orang lain dan dirinya.

Psikologi Klinis : Anak dan Dewasa



     Pernahkah kalian mendengar istilah Psikologi? Pasti, pertama kali yang terbayang dalam pikiran kalian adalah “wahh ngurusin orang gila” atau “wahh berarti u bisa baca gua donk?” atau malah ada yang berkata, “ooh, gua mau masuk jurusan itu, soalnya gak usah ketemu lagi sama hitungan (padahal tidaklah benar)”. Hal itulah yang mungkin terbayang atau yang kalian ucapkan pertama kali setelah mendengar kata Psikologi tersebut. Tetapi pernahkah kalian membayangkan bahwa untuk menjadi seorang Psikolog itu tidaklah mudah.
     Mengapa begitu? Jelas, seperti jurusan atau profesi lainnya, untuk menjadi seorang Psikolog banyak hal yang harus dikuasai, apalagi yang dipelajari adalah manusia. Sebagaimana kita tahu bahwa kehidupan manusia sangatlah kompleks. Untuk menjadi seorang psikolog yang kompeten, ia perlu menguasai teori, sejarah, dan bahkan teknik-teknik yang ada di dalam materi Psikologi itu sendiri.
     Profesi psikolog memiliki banyak cabang, seperti psikologi klinis, psikologi pendidikan, psikologi industri dan organisasi, psikologi forensik, dan beberapa cabang lainnya lagi. Tapi pada artikel ini saya ingin membahas mengenai psikologi klinis. Psikologi klinis sendiri terbagi menjadi dua lagi, yaitu Psikologi klinis anak dan Psikologi klinis dewasa.
     Dalam pertemuan kelas saya minggu lalu dalam mata kuliah Teknik Wawancara, wawasan saya mengenai profesi psikologi klinis ini, sedikit terbuka. Ternyata untuk menjadi seorang psikolog klinis baik itu klinis anak maupun klinis dewasa, sama beratnya dengan fakultas lainnya. Banyak hal yang harus diketahui dan dimengerti dan bahkan harus dikuasai, seperti ketika ingin melakukan teknik wawancara pada Klien (pasien) untuk mengetahui keluhan atau permasalahan yang dimilikinya.
     Teknik wawancara pada anak sangatlah berbeda pendekatannya dibandingkan pada orang dewasa. Mengapa bisa berbeda? Itu dikarenakan pola pikir anak dengan orang dewasa berbeda. Seringkali kita melihat bukan? Bahwa anak-anak yang baru pertama kali bertemu dengan orang asing ia akan merasa takut atau malu dan bersembunyi di balik orang tuanya. Oleh karena itu, pendekatannya harus berbeda dengan orang dewasa agar anak mau terbuka.
     Tetapi pada orang dewasa sendiripun, ada hal yang juga harus diperhatikan, mengenai apakah informasi yang diberikan pada saat wawancara itu asli, atau faking. Atau saat bercerita klien merasa canggung dan agak sulit untuk terbuka dan akhirnya perlu beberapa pendekatan lainnya. Atau malah ketika bercerita menjadi tidak berarah sehingga perlu diarahkan agar dapat memberi cerita yang menjadi topik permasalahannya.
     Semua yang saya bahas inipun masih berkisar pada teknik wawancara yang akan digunakan nantinya untuk menggali informasi, belum pada hal lainnya seperti penggunaan teknik terapi, alat tes dan observasi. Banyak hal yang harus dikuasai sebelum seseorang siap menjadi seorang Psikolog yang kompeten. Jadi bagi kalian yang ingin menjadi Psikolog harus mempersiapkan diri dengan baik apalagi yang kita hadapi adalah kehidupan orang lain. Jika salah penanganan akan fatal akibatnya. Jadi bagaimana menurut kalian mengenai Psikologi?