Ternyata, teknik wawancara dalam dunia
psikologi tidak hanya digunakan dalam konteks psikologi klinis saja, tetapi
juga dalam konteks psikologi industri/organisasi (PIO) dan juga dalam konteks
psikologi pendidikan. Jika dalam konteks klinis, wawancara digunakan untuk
menggali informasi dari klien mengenai masalah yang dihadapinya, lalu dalam
konteks PIO dan pendidikan, wawancara itu digunakan untuk apa?
Pada dasarnya sama, wawancara digunakan
untuk menggali informasi, hanya saja tujuan dasarnya sedikit berbeda. Jika dalam
konteks klinis untuk mengetahui permasalahan yang dimiliki klien, dalam konteks
PIO digunakan untuk mengetahui pengalaman pekerjaan calon karyawan, untuk
mengetahui kompetensi yang dimilikinya dan informasi-informasi lainnya. Lalu,
dalam konteks pendidikan, wawancara digunakan untuk mengetahui rencana
pendidikan dari murid, permasalahannya dalam pendidikan, minatnya atau bakatnya
yang ingin dikembangkan, dan informasi lainnya.
Lalu, pendekatan yang perlu dilakukan oleh
para praktisi PIO atau Pendidikan sama dengan pendekatan yang dilakukan oleh
para praktisi Psikologi klinis? Dalam hal ini mungkin saja ada perbedaannya. Dalam
konteks PIO, pendekatan wawancara yang dilakukan mungkin untuk meredakan
ketegangan dan rasa Nervous ketika si
calon karyawan akan diwawancara apalagi wawancara dilakukan face to face dan di dalam ruangan
tertutup. Sedangkan dalam konteks psikologi pendidikan, pendekatannya mungkin
saja lebih mengarah pada rasa keterbukaan dari praktisi agar murid mau ikut
terbuka pada praktisi agar permasalahannya dapat dibantu dalam dunia pendidikan
si murid.
Tetapi, walau ada perbedaan, teknik
wawancara yang dilakukan juga memiliki resiko yang sama, yaitu faking information / faking good. Dalam konteks
PIO, faking biasa dilakukan agar si
calon karyawan terlihat baik dan memiliki kompetensi yang bagus dalam bekerja
(padahal belum tentu praktisi PIO dapat dibohongi). Lalu, dalam konteks
psikologi pendidikan, faking mungkin
dilakukan untuk menghindari diri agar orang tua murid tidak dipanggil, karena
hingga saat ini jika orang tua murid dipanggil ke sekolah apalagi yang
memanggil itu adalah guru BP, orang tua memiliki pemikiran bahwa anaknya ada
suatu masalah besar di sekolah. Oleh karena itu bisa saja murid melakukan faking ketika diwawancara oleh praktisi.
Tentu, bagi praktisi PIO maupun Psikologi
Pendidikan, mereka juga menggunakan alat tes, observasi, walaupun mungkin
kurang dapat melakukan terapi. Pada dasarnya, menjadi Psikolog Klinis, PIO,
Psikologi Pendidikan, dan bidang Psikologi lainnya, banyak hal yang harus
dikuasai bagi calon-calon Psikolog untuk menjadi Psikolog yang kompeten, bahkan
mungkin kesulitannya tidak kalah berat dengan fakultas lainnya. Dari kedua
artikel saya, tentu sudah sedikit terbayang bukan bahwa menjadi seorang
Psikolog tidaklah semudah dari apa yang kalian bayangkan saat ini. Seorang Psikolog
juga manusia, jadi hormatilah juga bagi mereka yang menggeluti bidang Psikologi
bukan berarti mereka adalah dukun yang bisa membaca orang, atau hanya mengurusi
orang gila saja, atau sebagai fakultas pelarian karena dianggap tidak ada
hitungannya dalam materi perkuliahannya. Jadi bagaimana pandangan kalian saat
ini mengenai Psikologi?
No comments:
Post a Comment