Setelah banyak membahas teknik wawancara
dalam dunia psikologi, sebetulnya ada gak sih hal yang perlu diperhatikan dalam
teknik wawncara itu sendiri? Jawabannya sudah pasti ya. Lalu apa saja yang
harus diperhatikan dalam teknik wawancara, khususnya ketika digunakan untuk
kepentingan praktisi psikolog? Ada enam hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
kemampuan membina rapport, empati, attending behavior, teknik bertanya,
keterampilan observasi, dan active
listening.
Pertama, kemampuan membina rapport, pasti
ada yang masih bertanya-tanya apa rapport
itu sendiri? Rapport itu sendiri
merupakan kemampuan seseorang membina suatu hubungan yang baik, positif, dan
hangat terhadap orang lain. Hal ini perlu dilakukan untuk membina hubungan
dengan klien untuk memberi kesan bahwa praktisi adalah orang yang hangat dan
nyaman yang membuat klien mau terbuka pada praktisi. Hal ini dilakukan untuk
menggali informasi klien mengenai masalah yang dihadapinya.
Kedua, empati, hal ini penting untuk
dimiliki bagi seorang praktisi psikologi khususnya psikolog klinis. Mengapa begitu?
Klien yang menghadapi kesulitan apapun, bagi klien hal itu adalah sesuatu yang
sangat berat walaupun bisa jadi bagi kita hal itu sangatlah sederhana dan mungkin
dapat membuat kita geli mendengarnya. Dalam empati ini sangatlah penting
bagaimana kita membayangkan jika kita yang berada dalam masalah klien yang
sedang dihadapi. Dengan melakukan empati ini, klien akan merasa bahwa ada yang
memperhatikannya ataupun mengerti keadaannya. Hal ini dapat memotivasi diri
klien untuk turut berkooperasi dalam proses treatment.
Ketiga, attending behavior, yaitu berusaha membuat diri kita mendengar dan
sepenuhnya memberi waktu bagi klien untuk berbicara mengenai masalah dirinya. Hal
ini juga penting dilakukan, karena dapat memberikan kesan bahwa klien datang
pada praktisi psikolog tidak percuma sebab ada yang mendengarkan dirinya. Hal ini
juga merupakan bagian dari empati yang dapat diberikan pada klien. Dengan memperhatikan
klien, kita dapat sepenuhnya fokus pada permasalahan klien dibadingkan ketika
kita sibuk dengan diri kita sendiri.
Keempat adalah teknik bertanya. Ada dua
jenis teknik bertanya open question dan
closed question. Open question sifatnya lebih tidak mengarahkan di mana klien dapat
bebas mengekspresikan perasaannya dan dirinya. Biasanya pertanyaan yang
dilontarkan adalah “Apa yang bisa saya bantu?” dan dilakukan biasanya di awal
pertemuan di sesi pertama. Namun di tengah-tengah sesi juga dapat dilontarkan
pertanyaan open question seperti “Bisakah
anda ceritakan lebih lanjut?”. Kedua, closed
question, lebih bersifat mengarahkan dan jawaban yang diberikan biasanya
akan pendek bahkan dapat sebatas “ya” atau “tidak”. Ada resiko dengan closed question akan membuat klien
menjadi terpengaruh dengan pemikiran praktisi dan bisa jadi terdistorsi. Oleh sebab
itu, closed question dalam tiap sesi
tidak terlalu sering digunakan.
Kelima, keterampilan observasi, seperti
pada artikel sebelumnya, observasi juga akan sering digunakan bagi praktisi
terutama saat melakukan wawancara. Ada 3 area yang difokuskan dalam observasi. Pertama
adalah perilaku nonverbal, biasanya hal yang diperhatikan adalah sekitar
ekspresi wajahnya, bahasa tubuh yang dilakukan oleh klien, dan tentu praktisi
harus menghindari stereotype. Kedua adalah
perilaku verbal, hal yang diperhatikan sekitar pada sellective attention yang dilakukan oleh klien serta key word yang muncul dalam pembicaraan
klien. Dan yang terakhir adalah konflik, diskrepansi dan inkongruensi. Dalam hal
ini, praktisi harus mewaspadai diskrepansi antara perilaku verbal dan nonverbal
yang dilakukan klien dan juga inkongruensi dalam pembicaraan klien yang bisa
jadi klien masih tidak nyaman untuk bercerita sehingga adan indikasi klien
masih belum dapat jujur pada praktisi.
Terakhir adalah active listening, di mana ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan
kembali. Pertama, encouraging, sebuah
tindakan yag dilakukan oleh praktisi untuk memotivasi klien untuk terus
bercerita mengenai masalahnya. Kedua, reflection
of content vs reflection of feeling, di mana reflection of content merupakan tindakan yang berfokus pada konten
dan mengklarifikasi apa yang sudah dikomunikasikan oleh klien. Sedangkan reflection of feeling merupakan tindakan
mengidentifikasi key emotions dari
klien dan menanyakan klien untuk memastikan pengalaman afeksinya. Dan yang
ketiga adalah summarizing, sama
dengan reflection of content hanya
saja dilakukan saat akhir ketika klien sudah selesai bercerita dan merangkum
semuanya tidak sepanjang apa yang dikatakan klien hanya untuk mengklarifikasi
topik yang sudah disampaikan.
Keenam hal inilah yang penting dilakukan
dalam melakukan teknik wawancara terutama dalam bidang psikologi klinis. Namun dari
semuanya tentu ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan, yaitu mengenai
kerahasiaan yang dijaga mengenai permasalahan klien agar tidak diketahui oleh
orang lain. Hal ini juga dapat meningkatkan kenyamanan bagi klien untuk mau
terbuka dan menceritakan permasalahan diri klien. Be a good interviewer guys!
^_^
No comments:
Post a Comment