Sunday, March 31, 2013

Apa Itu Laporan Hasil Wawancara?



     Dalam setiap wawancara pasti mengenal istilah laporan hasil wawancara. Pentingkah laporan hasil wawancara tersebut? Tentu saja penting, kalian pasti pernah melihat dalam artikel koran atau majalah yang mewawancarai seorang tokoh atau selebriti dan dituliskan dialog wawancara mereka? Itu juga sudah bisa dibilang laporan hasil wawancara, hanya saja dikemas agar menarik untuk dibaca dan berbeda lagi jika diperuntukan kegiatan ilmiah. Jadi, laporan hasil wawancara dalam dunia psikologi itu seperti apa?
     Ada beberapa hal yang dilaporkan dalam hasil wawancara yang didapatkan baik selama konseling atau diluar konseling, yaitu hasil wawancara itu sendiri, hasil observasi terhadap subyek, dan refleksi pewawancara setelah melakukan wawancara dengan subyek. Pertama, hasil wawancara hanya memuat cerita subyek selama proses wawancara itu sendiri dan bukan menulis proses wawancara berlangsung. Laporan hasil wawancara merupakan rangkuman cerita subyek dengan urutan yang sistematis dan bukan berurutan sesuai dengan apa yang dikatakan subyek dalam proses wawancara.
     Kedua, hasil observasi pewawancara pada subyek selama wawancara berlangsung dan bukan kesimpulan atau penilaian pewawancara pada subyek secara pribadi. Bahasa yang digunakanpun harus konkret, spesifik, dan faktual. Terdapat satu evaluasi yang dapat digunakan pewawancara mengenai fungsi mental subyek, yaitu mental status examination (MSE). MSE ini terbagi menjadi 2 aspek, yaitu aspek perilaku dan aspek berpikir. Dalam setting observasi dalam wawancara, aspek yang digunakan adalah aspek perilaku saja. Aspek perilaku yang dilihat ada 3, yaitu tampilan dan perilaku umum, suasana hati, dan alur berpikir.
     Terakhir adalah refleksi sebagai pewawancara , ini perlu dan penting dilakukan oleh setiap pewawancara setelah melakukan wawancara. Pada bagian ini, pewawancara dapat melakukan introspeksi dan pengembangan diri sebagai pewawancara. Lalu dapat melihat kembali apakah teori yang sudah dipelajari sudah dapat dipraktekkan dalam proses wawancaranya. Pewawancarapun juga dapat mengaitkan pengalaman praktis yang ia miliki dengan teori-teori yang ada dalam proses wawancara. Hal ini dilakukan agar pewawancara dapat menjadi lebih kompeten sebagai pewawancara di masa mendatang. Sudah siapkah kalian menjadi seorang pewawancara?

Wednesday, March 27, 2013

Apa Itu Alat Kontrasepsi?



     Kehamilan merupakan impian bagi hampir semua wanita di dunia, namun ada juga wanita yang tidak ingin mengalami kehamilan. Semua tergantung keputusan si wanita itu sendiri dan pasangannya. Namun apa saja yang akan dilakukan setiap pasangan yang tidak ingin cepat-cepat hamil atau pasangan yang tidak ingin memiliki keturunan? Banyak pilihan yang dapat diambil oleh setiap pasangan untuk mencegah terjadinya kehamilan.
     Hal yang paling umum dikenal adalah alat kontrasepsi yang dikenalkan kepada masyarakat terutama masyarakat Indonesia melalui program Keluarga Berencana (KB). Namun jika dilihat, alat kontrasepsi itupun sendiri sudah dilakukan sejak lama. Seperti pada masyarakat mesir kuno yang memasukkan tampon yang telah dicelupkan dalam cairan herbal dan madu pada vagina wanita untuk menahan sperma masuk ke dalam rahim. Ada lagi dengan memasukkan sayuran polong pada masyarakat Afrika Selatan, spons yang sudah direndam pada alkohol pada masyarakat Persia, serta memasukkan bagian buah pomegranate kosong pada masyarakat Yunani. Intinya, strateginya adalah mencegah masuknya sperma ke dalam rahim wanita.
     Lantas, alat-alat kontrasepsi modern masih samakah seperti dulu? Jawabannya strateginya masih sama, tapi alatnya saat ini lebih terjamin keamanan penggunaannya. Seperti kondom, alat kontrasepsi yang digunakan pada pria ini ternyata sudah ada sejak lama sekitar pada 1350 SM, hanya saja berbeda bahan dasar pembuatannya. Pria Mesir waktu itu menggunakan sarung dekoratif mereka yang akhirnya dikembangkanlah selubung linen dan usus hewan untuk penutup penis ini. Lalu pada tahun 1844 hingga kini, perusahaan Goodyear mengembangkan dan meningkatkan kekuatan dan ketahanan karet yang akhirnya digunakanlah bahan lateks untuk pembuatan kondom.
     Lalu ada lagi alat kontrasepsi Dhiapragm, yang merupakan alat kontrasepsi berbentuk seperti kubah dan terbuat dari lateks atau silikon yang sekelilingnya fleksibel. Alat ini dimasukkan ke dalam vagina wanita sebelum melakukan sexual intercourse (hubungan intim). Setelah berhubungan intim, Dhiapragm harus dilepas sekitar 6-8 jam kemudian karena memiliki resiko toxic shock syndrome.
     Alat lainnya adalah sponge, berfungsi sebagai pelindung serviks, menutupi jalur ke uterus, menyerap sperma dan membunuh sperma. Alat ini nantinya akan dimasukkan ke dalam vagina, namun sebelumnya harus dibasahi terlebih dahulu untuk mengaktifkan spermicide (kandungan yang akan membunuh sperma). Sponge dilipat dan dimasukkan ke dalam vagina dan harus dilepas dalam kurun waktu 24 jam atau 6 jam setelah hubungan intim.
     Masih banyak lagi alat-alat lainnya, namun ada lagi yang paling sering digunakan oleh para wanita untuk mencegah terjadinya kehamilan, yaitu Pil KB. Pil ini bekerja meningkatkan estrogen dan progesteron untuk mencegah kelenjar pituitary mengirimkan sinyal untuk mematangkan ovum. Pil ini juga bekerja menebalkan lendir pada serviks dan mengurangi penumpukkan pada endometrium. Selain pil KB ada juga cara lainnya yang dapat dilakukan tanpa biaya seperti mengeluarkan sperma diluar vagina atau dengan menghitung waktu subur wanita dan melakukan hubungan diluar hari subur tersebut.
     Tentunya masih banyak alat kontrasepsi dan cara lainnya yang dapat digunakan bagi tiap pasangan yang tidak ingin cepat-cepat memiliki keturunan. Alat kontrasepsi apapun yang digunakan ataupun cara apapun yang dilakukan ada baiknya dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pasangan dan sebelumnya juga harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahlinya agar memiliki pengetahuan yang pasti dalam hubungan seksual dan alat kontrasepsi. Tentu kita tidak ingin sesuatu yang buruk pada masing-masing pasangan bukan hanya karena kita kurang mengetahui lebih mendalam mengenai alat kontrasepsi dan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kehamilan diluar perencanaan. Ingin memiliki keturunan atau tidak ataupun tidak ingin cepat-cepat memiliki anak, semua ada pada keputusan anda dan pasangan anda, yang terpenting adalah komunikasi untuk memutuskannya bersama pasangan.

Be a good partner for your partner in life.

Sunday, March 24, 2013

Social History Klien



     Ada satu hal dalam teknik wawancara yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan. Apakah itu? Social history dari klien itu sendiri atau sejarah kehidupan dari klien. Mengapa kita perlu mengetahui sejarah kehidupan dari klien? Tentu hal ini penting diketahui karena kita sebagai calon Psikolog dalam bidang apapun, sejarah kehidupan klien akan membantu kita mengkonseptualisasi sumber kesulitan klien yang sesungguhnya. Setiap klien pasti memiliki permasalahan yang berbeda, karena pemicunya pun dapat berbeda tergantung dari sejarah kehidupan yang sudah dilalui klien.
     Lantas, apa saja yang perlu kita ketahui dari klien dalam sejarah kehidupannya? Jawabannya, sangat banyak yang perlu kita gali dari sejarah kehidupan klien. Dari segi latar belakang keluarga klien, kita perlu tahu di mana ia dilahirkan, dibesarkan, dan bahkan asal-usul keluarganya. Ini dimaksudkan agar kita tahu apakah kesulitan klien bisa berasal dari kehidupan keluarganya. Ada lagi dilihat dari segi latar belakang pendidikan klien. Bukan berarti permasalahan inteligensi klien tapi juga bisa dari segi apakah klien memiliki teman dan senang dalam kehidupan pendidikannya di sekolah atau tidak, karena sekolah merupakan tempat kedua setelah keluarga yang akan membentuk klien saat ini.
     Masih banyak lagi seperti pekerjaan klien saat ini, status perkawinan klien jika sudah memasuki usia menikah, hubungan dengan lingkungan klien, jadwal rekreasi atau di mana klien berrekreasi, kehidupan seksualnya jika sudah menikah, sejarah medis dan psikoterapi (jika ada), legal history klien, pemakai obat-obatan, peminum alkohol, dan masih banyak hal lainnya. Semua hal ini penting diketahui dengan maksud untuk mencari apakah ada hubungannya dengan permasalahan klien yang sedang dihadapinya dengan latar belakang kehidupan klien.
     Jadi dari artikel-artikel sebelumnya, sudah terbayang bukan sulitnya menjalani sebuah wawancara? Apalagi jika dilakukan dalam bidang psikologi, banyak hal yang perlu diperhatikan. Tentu tidak hanya dalam bidang psikologi saja, dalam bidang lainnyapun banyak hal yang perlu diperhatikan jika ingin menjalankan sebuah wawancara. Yang terpenting adalah pengalaman dan berlatih lebih banyak lagi agar dapat menjadi kompeten dalam berwawancara.

Wednesday, March 20, 2013

Why Divorce?



     Pasti kalian pernah mendengar fenomena perceraian dari sepasang suami istri di acara televisi terutama pada pasangan selebriti. Sebetulnya kita juga bertanya-tanya, apa alasan mereka bercerai? Hal itulah yang sering muncul di pikiran kita ketika melihat kasus perceraian, terutama pada pasangan selebritis. Fenomena perceraian diantara pasangan selebriti menjadi semakin marak seolah-olah menunjukkan jika belum bercerai belum pas namanya.
     Tapi apa sih yang sebetulnya yang mendorong terjadinya perceraian itu sendiri? Tentu banyak alasan yang akan muncul di tiap pasangan jika ditanya mengapa mereka bercerai. Alasan yang paling sering kita dengar adalah “merasa sudah tidak cocok satu sama lain”, yang membingungkan adalah apakah sebatas itu saja alasannya? Tentu saja tidak sesederhana itu.
     Terlepas dari pasangan selebriti, pasangan suami istri dalam masyarakatpun juga banyak yang melakukan perceraian. Banyak hal yang dapat menjadi faktor suatu pasutri memilih untuk bercerai dan biasanya muncul ketika suatu konflik yang dihadapi sudah tidak dapat mereka selesaikan bersama. Bisa jadi kehidupan seksual mereka sebagai pasangan kurang menyenangkan bagi mereka, atau salah satu pasangan kurang mendapat perhatian dari pasangannya, atau bisa jadi salah satu pasangan atau salah dua pasangan berselingkuh.
     Terlepas dari faktor-faktor di atas, sebetulnya dalam suatu hubungan diperlukannya komitmen dan komunikasi serta rasa saling percaya di antara pasangan. Tanpa hal itu tentu akan sering terjadi kesalahpahaman antar pasangan, dan hal ini bisa memicu konflik semakin besar dan dapat berujung pada keputusan bercerai.
     Tentu perceraian terjadi juga bisa disebabkan adanya KDRT yang dialami salah satu pasangan. Jika hal itu terjadi terutama KDRT, saya sempat berpikir untuk apakah mereka menikah jika akhirnya hanya menyakiti salah satu pasangan? Apalagi jika mereka menikah yang dimulai dari proses pacaran. Apakah mereka sudah melupakan masa-masa mereka selama pacaran? Tentu jika mereka sampai menikah, banyak hal yang sudah dilewati bersama sebagai pasangan, yang mengherankannya adalah ketika sudah menikah malah terjadi KDRT ataupun perselingkuhan. Jika kita berkomitmen pada pasangan kita, tentu kita akan menghormati pasangan kita bukan?

Commitment, trust, and communication is what the thing that may make your relation become strong.

Sunday, March 17, 2013

yang perlu diperhatikan dalam wawancara



     Setelah banyak membahas teknik wawancara dalam dunia psikologi, sebetulnya ada gak sih hal yang perlu diperhatikan dalam teknik wawncara itu sendiri? Jawabannya sudah pasti ya. Lalu apa saja yang harus diperhatikan dalam teknik wawancara, khususnya ketika digunakan untuk kepentingan praktisi psikolog? Ada enam hal yang perlu diperhatikan, yaitu : kemampuan membina rapport, empati, attending behavior, teknik bertanya, keterampilan observasi, dan active listening.
     Pertama, kemampuan membina rapport, pasti ada yang masih bertanya-tanya apa rapport itu sendiri? Rapport itu sendiri merupakan kemampuan seseorang membina suatu hubungan yang baik, positif, dan hangat terhadap orang lain. Hal ini perlu dilakukan untuk membina hubungan dengan klien untuk memberi kesan bahwa praktisi adalah orang yang hangat dan nyaman yang membuat klien mau terbuka pada praktisi. Hal ini dilakukan untuk menggali informasi klien mengenai masalah yang dihadapinya.
     Kedua, empati, hal ini penting untuk dimiliki bagi seorang praktisi psikologi khususnya psikolog klinis. Mengapa begitu? Klien yang menghadapi kesulitan apapun, bagi klien hal itu adalah sesuatu yang sangat berat walaupun bisa jadi bagi kita hal itu sangatlah sederhana dan mungkin dapat membuat kita geli mendengarnya. Dalam empati ini sangatlah penting bagaimana kita membayangkan jika kita yang berada dalam masalah klien yang sedang dihadapi. Dengan melakukan empati ini, klien akan merasa bahwa ada yang memperhatikannya ataupun mengerti keadaannya. Hal ini dapat memotivasi diri klien untuk turut berkooperasi dalam proses treatment.
     Ketiga, attending behavior, yaitu berusaha membuat diri kita mendengar dan sepenuhnya memberi waktu bagi klien untuk berbicara mengenai masalah dirinya. Hal ini juga penting dilakukan, karena dapat memberikan kesan bahwa klien datang pada praktisi psikolog tidak percuma sebab ada yang mendengarkan dirinya. Hal ini juga merupakan bagian dari empati yang dapat diberikan pada klien. Dengan memperhatikan klien, kita dapat sepenuhnya fokus pada permasalahan klien dibadingkan ketika kita sibuk dengan diri kita sendiri.
     Keempat adalah teknik bertanya. Ada dua jenis teknik bertanya open question dan closed question. Open question sifatnya lebih tidak mengarahkan di mana klien dapat bebas mengekspresikan perasaannya dan dirinya. Biasanya pertanyaan yang dilontarkan adalah “Apa yang bisa saya bantu?” dan dilakukan biasanya di awal pertemuan di sesi pertama. Namun di tengah-tengah sesi juga dapat dilontarkan pertanyaan open question seperti “Bisakah anda ceritakan lebih lanjut?”. Kedua, closed question, lebih bersifat mengarahkan dan jawaban yang diberikan biasanya akan pendek bahkan dapat sebatas “ya” atau “tidak”. Ada resiko dengan closed question akan membuat klien menjadi terpengaruh dengan pemikiran praktisi dan bisa jadi terdistorsi. Oleh sebab itu, closed question dalam tiap sesi tidak terlalu sering digunakan.
     Kelima, keterampilan observasi, seperti pada artikel sebelumnya, observasi juga akan sering digunakan bagi praktisi terutama saat melakukan wawancara. Ada 3 area yang difokuskan dalam observasi. Pertama adalah perilaku nonverbal, biasanya hal yang diperhatikan adalah sekitar ekspresi wajahnya, bahasa tubuh yang dilakukan oleh klien, dan tentu praktisi harus menghindari stereotype. Kedua adalah perilaku verbal, hal yang diperhatikan sekitar pada sellective attention yang dilakukan oleh klien serta key word yang muncul dalam pembicaraan klien. Dan yang terakhir adalah konflik, diskrepansi dan inkongruensi. Dalam hal ini, praktisi harus mewaspadai diskrepansi antara perilaku verbal dan nonverbal yang dilakukan klien dan juga inkongruensi dalam pembicaraan klien yang bisa jadi klien masih tidak nyaman untuk bercerita sehingga adan indikasi klien masih belum dapat jujur pada praktisi.
     Terakhir adalah active listening, di mana ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan kembali. Pertama, encouraging, sebuah tindakan yag dilakukan oleh praktisi untuk memotivasi klien untuk terus bercerita mengenai masalahnya. Kedua, reflection of content vs reflection of feeling, di mana reflection of content merupakan tindakan yang berfokus pada konten dan mengklarifikasi apa yang sudah dikomunikasikan oleh klien. Sedangkan reflection of feeling merupakan tindakan mengidentifikasi key emotions dari klien dan menanyakan klien untuk memastikan pengalaman afeksinya. Dan yang ketiga adalah summarizing, sama dengan reflection of content hanya saja dilakukan saat akhir ketika klien sudah selesai bercerita dan merangkum semuanya tidak sepanjang apa yang dikatakan klien hanya untuk mengklarifikasi topik yang sudah disampaikan.
     Keenam hal inilah yang penting dilakukan dalam melakukan teknik wawancara terutama dalam bidang psikologi klinis. Namun dari semuanya tentu ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan, yaitu mengenai kerahasiaan yang dijaga mengenai permasalahan klien agar tidak diketahui oleh orang lain. Hal ini juga dapat meningkatkan kenyamanan bagi klien untuk mau terbuka dan menceritakan permasalahan diri klien. Be a good interviewer guys! ^_^